Putih Biru dan Sepatu Baru
Hari pertama masuk SMP rasanya campur aduk. Ada rasa bangga karena akhirnya resmi menanggalkan seragam merah-putih, tapi ada juga rasa gugup yang luar biasa. Berdiri di lapangan sekolah dengan seragam putih-biru yang masih kaku dan aroma sepatu baru yang khas, saya sadar bahwa dunia saya sudah berubah. Bukan anak-anak lagi, tapi belum bisa dibilang dewasa.
Masa SMP adalah masa di mana pertemanan terasa jauh lebih seru. Masih lekat di ingatan bagaimana kami sering berkumpul di kantin saat jam istirahat, berebut pop mie atau es teh manis, lalu mengobrolkan hal-hal random sampai bel masuk berbunyi. Mulai dari membicarakan game yang lagi tren, tugas matematika yang super sulit, hingga mata pelajaran olahraga yang selalu jadi favorit karena bisa bebas dari ruang kelas.
Tentu saja, bukan SMP namanya kalau tidak ada bumbu-bumbu drama kecil. Mulai dari paniknya saat ada razia atribut seragam atau potongan rambut yang mendadak, hingga momen mendebarkan saat guru killer masuk ke kelas dan mulai menunjuk murid secara acak untuk maju ke papan tulis. Jantung rasanya mau copot!
Namun, di antara semua rutinitas itu, hal yang paling berkesan adalah proses pencarian jati diri. Di sinilah kami belajar berorganisasi, mulai berani mengutarakan pendapat, dan perlahan memahami arti solidaritas sebuah pertemanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar